Dalam cabang olahraga gulat, komposisi tubuh merupakan variabel penentu yang sangat krusial antara kemenangan dan kekalahan. Seorang atlet tidak hanya dituntut memiliki teknik yang mumpuni, tetapi juga harus memiliki proporsi tubuh yang ideal antara kekuatan dan fleksibilitas. Membangun Massa Otot Pegulat yang fungsional menjadi fokus utama dalam setiap sesi latihan di Sulawesi Utara. Otot yang kuat berfungsi sebagai mesin penggerak untuk melakukan bantingan yang eksplosif sekaligus menjadi perisai pelindung saat menerima serangan dari lawan. Oleh karena itu, pembinaan di wilayah ini mulai mengintegrasikan ilmu gizi olahraga untuk memastikan bahwa setiap serat otot yang dibangun memiliki daya tahan dan kekuatan yang maksimal.
Pencapaian fisik yang prima bagi seorang Pegulat tidak didapatkan secara instan melalui latihan beban semata. Para pembina dan pelatih di wilayah utara Sulawesi ini menyadari bahwa apa yang dikonsumsi oleh atlet di meja makan sama pentingnya dengan apa yang mereka lakukan di atas matras. Program pengembangan yang dijalankan menekankan pada keseimbangan makronutrisi yang ketat. Karbohidrat kompleks digunakan sebagai sumber energi utama untuk menunjang sesi latihan yang panjang dan melelahkan, sementara lemak sehat diperlukan untuk menjaga fungsi hormon dan kesehatan sendi. Penyesuaian asupan ini dilakukan secara individual, mengingat setiap kelas berat dalam gulat memiliki kebutuhan kalori yang sangat spesifik.
Implementasi program Nutrisi Spesifik ini menjadi pembeda dalam kualitas pembinaan di tingkat daerah. Di Manado, para atlet dibiasakan untuk mengonsumsi protein berkualitas tinggi yang berasal dari sumber pangan lokal yang melimpah, seperti ikan laut segar. Protein sangat vital dalam proses pemulihan dan regenerasi jaringan otot yang mengalami kerusakan mikro saat latihan intensif. Selain itu, asupan mikronutrisi seperti kalsium dan magnesium diperhatikan secara saksama untuk mencegah terjadinya kram otot dan menjaga kepadatan tulang. Dengan nutrisi yang tepat, atlet dapat menjalani program latihan berat secara berkelanjutan tanpa risiko kelelahan kronis atau cedera yang disebabkan oleh kekurangan gizi.
Dukungan penuh dari pengurus Atlet PGSI di Manado juga mencakup edukasi mengenai pentingnya waktu makan (nutrient timing). Para pejuang matras ini diajarkan untuk memahami kapan tubuh membutuhkan asupan karbohidrat cepat serap untuk energi segera, dan kapan membutuhkan protein lambat serap untuk proses pemulihan saat tidur. Kedisiplinan dalam menjalankan pola makan ini telah menunjukkan hasil nyata pada performa fisik atlet saat berlaga di sirkuit nasional. Massa otot mereka terlihat lebih padat dan memiliki tenaga ledak yang lebih baik, yang sangat menguntungkan dalam upaya menjatuhkan lawan atau mempertahankan posisi bawah saat dikunci.
